Definisis disorder mental
1.
Disorder mental adalah bentuk gangguan dan
kekacauan fungsi mental, disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekhanisme
adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli ekstern dan
keteganggan-ketegangan. Sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur
dari suatu bagian, satu organ atau sistim kejiwaan/mental.
2.
Disorder mental itu merupakan totalitas kesatuan
daripada ekspresi proses kejiwaa/mental yang pathologis terhadap setimuli
sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor kaustif sekunder lainnya.
Kekacauan mental itupun diberi pertanda permulaan dengan
fenomena antara lain : cemas-cemas, ketakutan, pahit hati, hambar hati, adaptis,
cemburu, iri hati, dengki, kemarahan-kemarahan yang eksplosif, rasa asosial,
ketegangan bati yang kronis, dan lain-lain. Maka kekacauan mental itu merupakan
bentuk gangguan pada ketenangan batin dan harmoni struktur kepribadian.
Sedangkan orang yang memiliki mental sehat mempunyai
ciri-ciri khas antara lain :
1.
Ada koordinasi darisegenap usaha dan potensinya,
2.
Memiliki integrasi dan regulasi terhadap
setruktur kepribadiannya,
3.
Efisiensi dalam setiap tindakannya,
4.
Memiliki tujuan hidup,
5.
Bergairah dan tenang-harmonis batinnya.
Jadi mental yang sehat itu tidak hanya memanifestasikan diri
dalam bentuk : tnapa adanya ganguan batin saja, tapi posisi pribadinya juga
harmonis dan imbang. Baik harmonis-imbang kedalam terhadap diri sendiri, maupun
terhadap lingkungan sekitarnya.
Maka budaya moderen penuh reflitas dan kopentisi hidup ini
merefleksikan bentuk budayaan eksplosif atau higtn tension cultur dimana orang
getol berkopetinsi mengejar penghasilan tinggi dan kemewahan hidup materil.
Maka Jika usaha dan ambisi untuk mencapai kemewahan hidup itu tidak terperinci
orang akan merasa malu, taku,tegang, bingung,merasa rendah diri dan mengalami frustasi.
Gangguan emosional dan kekalutan mental banyak pula muncul
pada masa transisi. Dari masa agraris beralih pada periode mekanisasi
indrustrisasi dan urbaniasi.
Selama masih banyak manusia yang bersifat dinamis dan
agresif, selama itu masih terdapat persaingan antar-manusia, konflik, clash dan
perang.
Biasanya konflik-konflik terbuka antara-manusia dan konflik
bathin sendiri tersebut bisa diselesaikan oleh individu itu sendiri, tanpa ikut
campur tangannya orang luar; dan tanpa menimbulkan ekses gangguan jiwa. Akan
tetapi ada kalanya juga persaingan dan konflik yang tidak sehat dan
terus-menerus terjadi itu menyebabkan timbulnya kekalutan bathin yang
terpendam/tertutup, sifatnya sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa
penderitanya. Kekalutan jiwa ini kemudian memanifestasikan diri dalam bentuk
tingkah laku autis, dipenuhi rasa panik dan gambaran bahaya yang khayali. Lalu
si penderita membayangkan dalam khayalannya satu dunia sosial imaginer, sesuai
dengan angan-angannya sendiri.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar