Kamis, 16 Mei 2013

MENTAL DISORDER (KEKALUTAN/KEKACAUAN/GANGGUAN MENTAL)

MENTAL DISORDER


Definisis disorder mental
1.       Disorder mental adalah bentuk gangguan dan kekacauan fungsi mental, disebabkan oleh kegagalan bereaksinya mekhanisme adaptasi dari fungsi-fungsi kejiwaan/mental terhadap stimuli ekstern dan keteganggan-ketegangan. Sehingga muncul gangguan fungsi atau gangguan struktur dari suatu bagian, satu organ atau sistim kejiwaan/mental.
2.       Disorder mental itu merupakan totalitas kesatuan daripada ekspresi proses kejiwaa/mental yang pathologis terhadap setimuli sosial, dikombinasikan dengan faktor-faktor kaustif sekunder lainnya.
Kekacauan mental itupun diberi pertanda permulaan dengan fenomena antara lain : cemas-cemas, ketakutan, pahit hati, hambar hati, adaptis, cemburu, iri hati, dengki, kemarahan-kemarahan yang eksplosif, rasa asosial, ketegangan bati yang kronis, dan lain-lain. Maka kekacauan mental itu merupakan bentuk gangguan pada ketenangan batin dan harmoni struktur kepribadian.
Sedangkan orang yang memiliki mental sehat mempunyai ciri-ciri khas antara lain :
1.       Ada koordinasi darisegenap usaha dan potensinya,
2.       Memiliki integrasi dan regulasi terhadap setruktur kepribadiannya,
3.       Efisiensi dalam setiap tindakannya,
4.       Memiliki tujuan hidup,
5.       Bergairah dan tenang-harmonis batinnya.
Jadi mental yang sehat itu tidak hanya memanifestasikan diri dalam bentuk : tnapa adanya ganguan batin saja, tapi posisi pribadinya juga harmonis dan imbang. Baik harmonis-imbang kedalam terhadap diri sendiri, maupun terhadap lingkungan sekitarnya.
Maka budaya moderen penuh reflitas dan kopentisi hidup ini merefleksikan bentuk budayaan eksplosif atau higtn tension cultur dimana orang getol berkopetinsi mengejar penghasilan tinggi dan kemewahan hidup materil. Maka Jika usaha dan ambisi untuk mencapai kemewahan hidup itu tidak terperinci orang akan merasa malu, taku,tegang, bingung,merasa rendah diri dan mengalami frustasi.
Gangguan emosional dan kekalutan mental banyak pula muncul pada masa transisi. Dari masa agraris beralih pada periode mekanisasi indrustrisasi dan urbaniasi.
Selama masih banyak manusia yang bersifat dinamis dan agresif, selama itu masih terdapat persaingan antar-manusia, konflik, clash dan perang.
Biasanya konflik-konflik terbuka antara-manusia dan konflik bathin sendiri tersebut bisa diselesaikan oleh individu itu sendiri, tanpa ikut campur tangannya orang luar; dan tanpa menimbulkan ekses gangguan jiwa. Akan tetapi ada kalanya juga persaingan dan konflik yang tidak sehat dan terus-menerus terjadi itu menyebabkan timbulnya kekalutan bathin yang terpendam/tertutup, sifatnya sangat serius dan membahayakan kesehatan jiwa penderitanya. Kekalutan jiwa ini kemudian memanifestasikan diri dalam bentuk tingkah laku autis, dipenuhi rasa panik dan gambaran bahaya yang khayali. Lalu si penderita membayangkan dalam khayalannya satu dunia sosial imaginer, sesuai dengan angan-angannya sendiri.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar