Pengaturan diri
Ketika manusia memiliki tingkat self effeacy
tinggi,yakin bahwa tindak perwakilan bisa diandalkandan memiliki kemampuan
untuk memengaruhi hasil yang diharapkan secara kolektif (collective effeacy)
yang solid maka, mereka akn memilik kemampuan tertentu untuk mengatur perilaku
diri sendiri.
Manusia memotivasi dan menuntun perilaku melalui
kontrol proaktif dengan menetapkan bagi diri mereka tujuan-tujuan berharga,
yang pada gilirannya menciptakan kondisi tidak keseimbangan untuk kemudian
memobilisasikemampuan dan upaya berdasarkan estimasiantisipatoris mereka bagi
segala yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Proses pembentuk pengaturan diri...
Pertama, keterbatasan kemampuan manusia memanipulasi
faktor-faktor eksternal, dan keterbatasan ini mendukung paradigma interaksi
yang resiprok.
Kedua, manusia sanggup memonitir perilaku dan
mengefaluasinya berdasaran tujuan terdekat atau terjauh.
Faktor – faktor eksternal pengaturan diri
Faktor – faktor eksternal mempengaruhi pengaturan diri
ada dua :
Pertama, faktor eksternal menyediakan standar untuk
mengevaluasi perilaku kitasendiri.
Kedua, faktor-faktor eksternal memengaruhi
pengaturan diri dengan menyediakan cara-cara penguatan.
Faktor-faktor eksternal berinteraksi dengan
faktor-faktor atu personal dalam pengaturan diri (1) observasian diri faktor
internal pertama pengaturan diri adalah observasi diri (self observation)
terhadap performa yang sudah dilakukan.
(2) sebagai proses yang kedua, proses penilaian
(judgmental process) membantu meregulasi perilaku melalui proses mediasi
kognitif.
(3) reaksi diri faktor internal ketiga dan terakhir
dari pengaturan diri adalah reaksi diri (self reaction)manusia merespon positif
perilaku mereka tergantung kepada bagaimana perilaku ini diukur dan apa
setandar pribadinya.
Pengaturan diri melalui tindakan moral
Meredefinisi perilaku
Dengan meredefinisi perilaku, manusia menjustifikasi
tindakan keliru dengan penstrukturan ulang perilaku secara kognitif sehingga
memampukan mereka meminimalkan atau melepaskan diri dari tanggung jawab.
© Yang
pertama justifikasi moral, yaitu perilaku keliru dibuat seperti upaya pembelaan
diri bahkan kehormatan.
© Metode
yang kedua mereduksi tanggung jawab dengan merdefinisi perilaku yang keliru
adalah membuat pembandingan oportunistik atau menguntungkan diri sendiriantara
perilaku yang keliru dengan orang lain yang lebih jahat.
© Teknik
ketiga dalam meredefinisi perilaku adalah menggunakan pelabelan eufemistik.
Tindakan menghargai atau mendistorsi
konsekuensi-konsekuensi perilaku
Metode kedua untuk menghindari tanggung jawab adalah
mendistorsi atau memburamkan kaitan antara perilaku dan konsekuensi perilakunya
yang rusak.
Konsekuensi yang rusak dari suatu tindakan :
© Pertama,
manusia dapat meminimalkan konsekuensi-konsekuensi perilaku mereka.
© Kedua,
manusia sengaja tidak mengahargai atau mengabaikan konsekuensi-konsekuensi
tindakannya, dengan alasan tidak melihat langsung efek-efek berbahaya perilaku
tertentu.
Pendehumanisasian atau mempersalahkan korban
Ketiga, manusia dapatmemburamkan tanggung jawab bagi
tindakannya dengan mendehumanisasikan korban, bahkan mengkambinghitamkan
Memindahkan atau menyebarkan tangung jawab
Metode keempat melepaskan diri dari konsekuensi
tindakan adalah memindahkan atau menyebarkan tanggung jawab.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar