Kamis, 16 Mei 2013

Pengaturan diri


Pengaturan diri


Ketika manusia memiliki tingkat self effeacy tinggi,yakin bahwa tindak perwakilan bisa diandalkandan memiliki kemampuan untuk memengaruhi hasil yang diharapkan secara kolektif (collective effeacy) yang solid maka, mereka akn memilik kemampuan tertentu untuk mengatur perilaku diri sendiri.
Manusia memotivasi dan menuntun perilaku melalui kontrol proaktif dengan menetapkan bagi diri mereka tujuan-tujuan berharga, yang pada gilirannya menciptakan kondisi tidak keseimbangan untuk kemudian memobilisasikemampuan dan upaya berdasarkan estimasiantisipatoris mereka bagi segala yang dibutuhkan untuk mencapai tujuan tersebut.
Proses pembentuk pengaturan diri...
Pertama, keterbatasan kemampuan manusia memanipulasi faktor-faktor eksternal, dan keterbatasan ini mendukung paradigma interaksi yang resiprok.
Kedua, manusia sanggup memonitir perilaku dan mengefaluasinya berdasaran tujuan terdekat atau terjauh.

Faktor – faktor eksternal pengaturan diri
Faktor – faktor eksternal mempengaruhi pengaturan diri ada dua :
Pertama, faktor eksternal menyediakan standar untuk mengevaluasi perilaku kitasendiri.
Kedua, faktor-faktor eksternal memengaruhi pengaturan diri dengan menyediakan cara-cara penguatan.
Faktor-faktor eksternal berinteraksi dengan faktor-faktor atu personal dalam pengaturan diri (1) observasian diri faktor internal pertama pengaturan diri adalah observasi diri (self observation) terhadap performa yang sudah dilakukan.
(2) sebagai proses yang kedua, proses penilaian (judgmental process) membantu meregulasi perilaku melalui proses mediasi kognitif.
(3) reaksi diri faktor internal ketiga dan terakhir dari pengaturan diri adalah reaksi diri (self reaction)manusia merespon positif perilaku mereka tergantung kepada bagaimana perilaku ini diukur dan apa setandar pribadinya.

Pengaturan diri melalui tindakan moral
Meredefinisi perilaku
Dengan meredefinisi perilaku, manusia menjustifikasi tindakan keliru dengan penstrukturan ulang perilaku secara kognitif sehingga memampukan mereka meminimalkan atau melepaskan diri dari tanggung jawab.
©      Yang pertama justifikasi moral, yaitu perilaku keliru dibuat seperti upaya pembelaan diri bahkan kehormatan.
©      Metode yang kedua mereduksi tanggung jawab dengan merdefinisi perilaku yang keliru adalah membuat pembandingan oportunistik atau menguntungkan diri sendiriantara perilaku yang keliru dengan orang lain yang lebih jahat.
©      Teknik ketiga dalam meredefinisi perilaku adalah menggunakan pelabelan eufemistik.
Tindakan menghargai atau mendistorsi konsekuensi-konsekuensi perilaku
Metode kedua untuk menghindari tanggung jawab adalah mendistorsi atau memburamkan kaitan antara perilaku dan konsekuensi perilakunya yang rusak.
Konsekuensi yang rusak dari suatu tindakan :
©      Pertama, manusia dapat meminimalkan konsekuensi-konsekuensi perilaku mereka.
©      Kedua, manusia sengaja tidak mengahargai atau mengabaikan konsekuensi-konsekuensi tindakannya, dengan alasan tidak melihat langsung efek-efek berbahaya perilaku tertentu.
Pendehumanisasian atau mempersalahkan korban
Ketiga, manusia dapatmemburamkan tanggung jawab bagi tindakannya dengan mendehumanisasikan korban, bahkan mengkambinghitamkan

Memindahkan atau menyebarkan tangung jawab
Metode keempat melepaskan diri dari konsekuensi tindakan adalah memindahkan atau menyebarkan tanggung jawab. 

Tidak ada komentar:

Posting Komentar